Rabu, 29 Agustus 2012

Sang Penentang Gravitasi

Update lagi nih,

Berhubung udah di kasih tau nih nanti Zuar akan memposting cerpen karyanya, Zuar bakal kasih judul juga buat kategori cerpen zuar yang di post di writion.blogspot.com.

Judulnya adalah Imaji

Untuk cerpen selanjutnya juga akan dikategorikan di posting Imaji dengan nomor berbeda sesuai urutan Zuar menulisnya,

langsung aja nih ke postingan, oke check this!

Imaji # 1


 
Sang Penentang Gravitasi
            Penuh wajah bulan tampak di hamparan hitam. Angin mengelus apa yang dilewatinya. Udara lembab di ruangan itu, membuat segalanya terasa hambar. Sunyi, hanya dingin yang mengiang.
            Ruangan itu telah menjadi saksi mati. Menyaksikan perkembangan pikiran manusia yang kian pesat teralami. Menjadi saksi akan ditemukannya suatu benda yang lahir dari pikiran dan ambisi yang tak dapat dijelaskan. Benda yang dapat mengirimkan generasi manusia menuju zaman yang lebih unggul. Tak dapat terbayangkan apalah jadinya bila “Alat Pengatur Gravitasi” akan benar-benar dilegalkan untuk publik.
            Di suatu saat, beberapa hari setelah “si pengatur gaya bumi” lahir, sang penemu yang mahsyur membahana namanya, Princeton Patrickson, bekerja di depan komputernya. Tak mampu meninggalkan anak semata wayangnya seorang diri di rumah, dia membawa insan yang belum matang itu ke ruangan kerjanya. Menaruhnya di kursi yang tak terlalu tinggi, bermotifkan daun-daun yang terukir dari jati. Membiarkannya asyik dalam kebosanan.
            “Ayah, apa yang ayah lakukan? Sedari tadi aku melihatmu diam saja di depan komputer.”  Sang anak bertanya dengan aksen yang sudah sangat dikenali oleh lawan bicaranya, orang tuanya.
            “Ayah sedang bekerja, nak.” Masam wajahnya. Tak peduli apa yang ada di sekelilingnya.
            “Ayah sedang mengerjakan apa?”
            “Menghitung.”
            “Menghitung apa?”
            “Menghitung bintang.”
            “Bintang ada di komputer?”
            Lelah Princeton menjawab pertanyaan anaknya. Insan muda itu membuka pikirannya untuk wawasan yang tak terbartas di lingkungannya. Lelaki berumur 12 tahun yang IQ-nya melebihi anak-anak yang lain.
            “Aku bosan duduk di sini terus.” Keluh si anak yang dari tadi ocehannya terus menyambung.
            “Aku ingin berjalan-jalan sebentar.” Lanjutnya.
            “Kemana?” ayahnya kembali bersuara. Walau cetus pembawaannya.
            “Hanya sekitar kantor ayah saja.”
            Princeton membalikkan posisi tubuhnya. Menatap anaknya yang sudah turun dari kursi jati. Tinggal beberapa inci lagi dari muka pintu.
            “Ingat Nebula!” sang ayah hendak melemparkan pesan.
            “Jangan berjalan-jalan terlalu jauh. Jangan pula menyentuh barang-barang ayah.”
            Anak yang memiliki tinggi sebahu ayahnya, Nebula, keluar dari ruangan yang telah lama mengisolasi dirinya. Menutup pintu dengan perlahan sehingga tak terdengar suara decitan yang tercipta.
            Berjalan dengan perlahan. Santai, menengok sisi kiri dan sisi kanannya. Mencari sesuatu yang menarik.
            Pintu kecil yang memojok di bawah tangga mahoni menarik perhatian si pembuka wawasan. Mendekati objek itu dengan perlahan, sama halnya dengan cara dia berjalan, menggenggam gagang pintu yang tebal akan debu, dan memutarnya ke arah bumi menarik benda.
            Hawa dingin langsung terhembus. Menjalari pori-pori Nebula yang tegak berdiri di depan pintu pojokan tadi. Pintu yang menjadi portal perkembangan pemikiran manusia.
            Menuruni anak tangga dengan sedikit mengendap-endap. Menyisir setiap objek dengan kornea yang tak banyak lagi asupan cahayanya. Menarik nafas dengan teratur. Menyeimbangkan ketegangan, ketakutan, dan hawa dingin yang menyelimuti.
            Di dasar ruangan bawah tanah, Nebula tak sengaja menemukan benda yang sangat penting bagi ayahnya saat itu. Hasil dari pemikirannya bertahun-tahun lalu. Implementasi dari banyak ide-ide yang dicetuskan oleh para ilmuan. Yaitu, “Alat Pengatur Gravitasi”.
            Merasa takjub akan bentuk benda yang sangat besar dengan kerlap-kerlip lampu kecil berwarnakan toska, dia mendekatinya. Menyentuh permukaannya yang membeku. Menatap monitor yang wajahnya penuh campuran warna. Menghapus debu dan jaring yang seakan menghiasinya.
            “Nebula, kau dibawah?! Sudah ayah bilang, jangan pernah masuk ke ruangan ini!”
            Teriakkan itu menghentakkan Nebula. Terkesiap dirinya, dan secara refleks berlari dengan gemuruh injakan tanah menuju asal suara.
            Rumah Princeton yang sangat sederhana. Dipenuhi banyak kenangan disaat fajar dan senja. Mencolok cat jingga yang halus ditangkap mata. Senja yang memberikan aura, terasa bergulir begitu lambat disekelilingnya. Semakin memberikan kesan bahwa itu adalah bangunan yang paling anggun yang ada di Florida.
            Tak ada yang dapat mengira, bahwa ruang makan seorang profesor mahsyur, dapat bertransformasi menjadi sebuah ruangan debat. Debat antar ayah dan anaknya.
            “Nebula! Sudah berapa kali kau mendapatkan nilai sejelek ini?!”
            “Baru tiga kali ayah, satu pekerjaan rumah, dan dua tes harian.” Telah lemas anak itu menjawabnya. Sang profesor sangat keras amarahnya, walaupun tak ada gamparan pun yang melayang.
            “Ini fisika dasar. Kau anak seorang profesor dunia. Mengapa soal seperti ini saja kau tidak bisa?”
            “Aku bisa ayah. Aku bisa mengerjakannya.”
            “Tapi, mengapa jadinya seperti ini? Anjlok nilaimu! Memalukan!”
            Ayah yang menakutkan itu menatap kertas tes anaknya. Berusaha mencari kesalahan anaknya.
            “Kau tau Hukum Newton Kedua?” sang ayah menanyakan suatu pertanyaan yang pasti diketahui anaknya.
            “Gaya yang terjadi sama dengan massa dikalikan percepatan.”
            “Nah! Kau tahu itu! Tapi mengapa kau malah mengkombinasikannya dengan gaya normal? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban yang kau tulis!”
            “Jelas butuh, ayah! Benda itu dipengaruhi pula oleh gravitasi bumi. Berat pun ikut berpengaruh.”
            Princeton menatap anaknya. Takjub, tetapi tetap geram. Dia menghampiri anaknya. Menyentuh kedua bahunya.
            “Dengar nak, pelajaranmu di sekolah masih sangatlah sederhana. Kau belum membutuhkan rumus gaya normal atau apapun yang kau pikir dapat ditambahkan. Ikuti saja apa kata gurumu. Manfaatkan apa yang mereka ajarkan. Belum saatnya kau berpikir melampaui teman-temanmu.”
            Matahari sudah lama tenggelam. Beberapa jam lalu, kebisingan masih menyelubungi seisi kota. Kini, semua terasa lenyap dimakan purnama yang tampak mengilat. Menumpahkan cahayanya kepada makhluk-makhluk yang tengah terlelap terselimut gelap. Kecuali seorang anak yang sedang merenung. Mengalir sungai kecil di sudut matanya.
            Di dalam hatinya, dia sangat yakin bahwa dia tidaklah salah. Apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar. Apa yang dia lakukan, tak patut untuk disangkal.
            Matanya tak jelas menatap apa. Hanya terpaku pada suatu titik, sedangkan pikirannya melayang dalam perenungan. Kesal menggelayuti hatinya, namun sesal lebih menyentuh nuraninya.
“Apa yang salah dengan diriku? Mengapa ayah selalu menganggapku salah?” lirih katanya itu meluncur.
Di tengah tetesan suatu rasa yang sulit dimengerti tak hentinya mengering, isaknya membuat Nebula tersedak. Hendak mengambil segelas air mineral, kakinya menuruni kasur yang menjadi tempat dia merenung.
“Hah?”
Sesuatu terasa mengganjal. Ada yang aneh saat itu.
“Mengapa langkahku terasa sangat berat?”
Mencoba melangkah, dengan susah payah dia berhasil memindahkam posisi kakinya. Sesuatu telah berubah pada Florida.
Berpikir dirinya. Di saat kesedihan membayang-bayangi dirinya, terhentak dia melayang. Terkejut akan sesuatu yang sangat tak biasa dia alami.
“Hah? Aku terbang?” keheranan si anak yang selalu ingin tahu.
Nebula mengayun-ayun kakinya. Berusaha menghampiri pintu kamarnya.
­Bakk! Terjatuh dirinya. Florida kembali normal.
“Nebula! Nebula! Kau baik-baik saja?!” ayahnya membuka pintu dengan keras. Tak sabar untuk memastikan anaknya baik-baik saja.
“Apa yang terjadi ayah?” bertanya sembari bangkit.
“Gravitasi bumi menjadi tak beraturan. Mungkin akibat malfungsi penemuan ayah.”
“Mengapa semua menjadi kacau? Ayah sudah menentang hukum alam, dan jika alat itu benar-benar rusak, apa aku, ayah, dan yang lainnya akan menjadi orang-orang yang menentang gravitasi?” pikirnya yang sudah terlampau jauh berandai-andai.   
            Ruangan lembab itu kembali menjadi saksi. Sekarang, menyaksikan kerusakan yang diakibatkan oleh pemikiran manusia yang jauh berkhayal.
            Princeton serius dengan pekerjaannya, mendeteksi kesalahan pada alat yang dia temukan. Malfungsi atau lainnya yang dapat menimbulkan kerusakan pada alat itu.
            “Ada yang mengaktifkan alat ini.” Bisik sang profesor. Bisikkannya itu terdengar oleh anaknya.
            Nebula mengingat-ingat apa yang dia lakukan di ruangan bawah tanah dahulu. Dia tak yakin akan perkiraannya. Dia tak sengaja mengaktifkan alat itu disaat ayahnya meneriakinya.
            Hendak memberitahukan apa yang dia pikirkan, Nebula melangkah mendekati ayahnya. Tapi dengan tiba-tiba, gravitasi berubah kembali. Menjadi benar-benar dekat pada titik nol, tanpa gravitasi.
            “Ayah!” teriak Nebula. Dia terhentak ke atas. Merasa tak memiliki berat.
            “Tenang nak! Ayah menggenggammu!” Princeton yang terlempar dari kursi kerjanya menggenggam tangan Nebula, berusaha menenangkan anaknya.
            Gravitasi cepat berubah. Menjadi di atas skala sepuluh. Ayah dan anak itu terjatuh dengan keras. Menghantam tanah hingga berdentum keras.
            Tak berapa lama kemudian, gravitasi kembali normal. Dengan sigap Princeton kembali mengutak-atik sumber masalah.
            Nebula ikut bangkit. Matanya tak sengaja menatap monitor alat penemuan ayahnya.
            “Ayah, aku tahu kesalahannya!”
            “Ayah tak ingin bercanda saat ini, nak!”
            “Aku tidak bercanda! Ayah lupa memasukan indeks berat pada persamaan gaya normal. Ayah lupa mengalikan massanya dengan gravitasi!”
            Princeton segera menyadari apa kesalahannya. Anaknya benar. Dia telah salah perhitungan.
            “Baiklah, penyelesaiannya adalah….” Princeton berkata-kata dengan sedikit gemetar.
            Gravitasi kembali nol. Dengan tiba-tiba bumi melayangkan Princeton dan Nebula. Padahal, hanya tinggal menekan tombol ‘enter’ masalah akan terselesaikan.
            Princeton berusaha menghampiri alat pengatur gravitasi. Tetapi dia bergerak terlalu lambat. Nebula telah lebih dulu menekan tombol konfirmasi perintah komputer dan menyelesaikan masalah dirinya, ayahnya, dan Florida.
            Keadaan kembali normal. Princeton dan Nebula kembali terhentak. Tanah kembali menerbangkan debu-debu.
            Princeton bangkit. Menghampiri Nebula dan membantunya untuk berdiri.
            “Kau hebat, nak! Kau selesaikan masalah ini!”
            “Ya ayah.”
            “Oh, ayah tahu ayah telah menyakiti hati anak ayah sendiri. Sekarang ayah tahu, bahwa kau tak patut untuk diremehkan, Nebula Patrickson.” Princeton segera menyadari kesalahan yang telah ia lakukan sejak lama. Tindakkan anaknya mengetuk hatinya demikian keras sehingga luluh sudah keegoisan yang selama ini menyelubungi hati sang profesor.
            “Aku tak sakit hati ayah. Aku hanya ingin ayah tahu, aku dapat menyelesaikan masalahku dengan caraku sendiri, lebih baik dari ayah dan dari orang dewasa yang lainnya.”
            Sungguh hangat jadinya ruangan dingin itu. Pembuktian seorang anak kepada ayahnya. Pembuktian bahwa usia tak dapat membatasi kemampuan seseorang dalam mengatasi suatu permasalahan. Nebula membuktikannya. Florida terselamatkan oleh seorang anak berusia 12 tahun.
TAMAT
by Zuar
            Oke, sebenarnya ini karya saya waktu disuruh buat cerpen Bahasa Indonesia di kelas, hehe. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan. Dan ingat pesan dari cerpen ini,
"Jangan melihat siapa yang mengatakannya, tapi pahamilah apa yang ia katakan juga yang ia lakukan."
 
           
 
           

           

           

 

           



Evolusi!

Assalamu'alaikum ...
Salam para pembaca!
Waah, udah lama nih gak update..

Mungkin para pembaca heran, mengapa penulis blog ini bukan lagi Saga Ufuk?

Ya, karena Saga Ufuk telah berevolusi menjadi Lazuardi.. hehehe

Perkenalan lagi aja nih, yang nantinya bakalan nulis di blog ini adalah Lazuardi, yaitu saya. Kalau mau lihat blog saya yang lain, bisa kunjungi bukulazuardi.blogspot.com
Tenang kok, Saga Ufuk dan Lazuardi itu orang yang sama, cuma ganti nama aja, hehehe, mumpung nama pena gak ada di akta kelahiran, hahaha

Oke, untuk entry selanjutnya, masih tetap konsisten nih sama Saga Ufuk. Tulisan bakal bertemakan tentang tulis menulis, fiksi ilmiah, dan hal-hal lain yang bersifat futuris.

Juga sedikit cerpen mungkin dari Lazuardi, hehehe.

Tunggu entry selanjutnya oke, kali ini kita perkenalan dulu dengan orang yang sudah dikenal (???)

Sampai jumpa di lain etry!